• Jelajahi

    Copyright © Liga Peristiwa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    Bentrokan Berdarah di Setokok Batam, 2 Orang Tewas dan 7 Luka-luka

    Selasa, 15 September 2026, September 15, 2026 WIB Last Updated 2026-09-15T02:50:08Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini



    BATAM, Ligaperistiwa.net -

    Konflik penguasaan lahan oleh dua perusahaan di kawasan Setokok, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Kepulauan Riau, berujung bentrokan berdarah, Senin (14/9/2026) sore. Bentrokan terjadi saat dua kelompok berada di lokasi lahan yang sama. 


    Peristiwa tersebut menyebabkan dua orang meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka. Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono mengatakan, bentrokan dipicu persoalan lahan yang telah berlangsung cukup lama. "Adanya kejadian menyangkut masalah yang mengakibatkan orang meninggal dunia. Ini diawali adanya konflik masalah lahan," kata Anggoro saat ditemui di Polresta Barelang, Senin (14/9/2026) malam.


    PT SBS Klaim Kuasai Lahan Sejak 2002 Humas PT Sat Bangun Sukses (SBS), Guntur, mengatakan pihaknya mengklaim telah menguasai lahan seluas sekitar 10 hektare sejak 2002.


    Menurut Guntur, lahan tersebut sebelumnya dibeli perusahaan dari orangtua salah satu tokoh masyarakat di kawasan Setokok. "Kami sudah membeli lahan tersebut dari almarhum Pak Haji dan almarhumah Bu Hajjah, orangtua dari Awang Herman. 


    Setelah itu, lahan ditanami tanaman tumbuh seperti kelapa, pisang, dan lainnya," jelas Guntur saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri, Senin (14/9/2026) malam. Persoalan kemudian berlanjut ketika PT SBS mengajukan permohonan pengalokasian lahan kepada BP Batam pada 31 Agustus 2023. 


    Namun, menurut Guntur, perusahaan saat itu mendapat informasi bahwa hak pengelolaan lahan (HPL) dari pemerintah pusat belum turun.


    PT SBS kembali mengajukan permohonan pengalokasian lahan pada 12 Januari 2024. Permohonan tersebut, kata Guntur, kembali mendapat jawaban serupa. Perusahaan kemudian kembali mengajukan permohonan pada 28 Juli 2026.


     Namun, melalui surat resmi tertanggal 18 Agustus 2026, PT SBS mendapat informasi bahwa lahan tersebut telah dialokasikan kepada pihak ketiga. "Ini membuat kami kecewa, karena kami menunggu-nunggu informasi dari BP Batam, tapi ternyata lahan sudah dialokasikan kepada pihak lain," ujarnya.


    Perusahaan Lain Disebut Mulai Beraktivitas Guntur mengatakan, persoalan semakin memanas setelah sebuah perusahaan lain disebut mulai melakukan aktivitas di lahan tersebut. Menurut dia, perusahaan tersebut menggandeng kelompok Lang Laut untuk menguasai lahan dan melakukan pembongkaran terhadap tanaman yang berada di area tersebut. "Aktivitas tersebut sudah berlangsung beberapa hari.


     Saat kami ke lokasi, di sana sudah terdapat satu alat berat. Mereka juga membangun pagar di dalam pagar kami," jelasnya. Merasa keberatan dengan aktivitas tersebut, PT SBS kemudian mendatangi lokasi pada Senin sekitar pukul 14.30 WIB. 


    Guntur menyebut lebih dari 100 orang dari pihak perusahaan datang ke lokasi untuk membongkar pagar yang disebut didirikan perusahaan lain. Namun, setibanya di lokasi, mereka mendapati lebih dari 200 orang telah berada di area tersebut.


    Guntur mengklaim kelompok tersebut membawa senjata tajam dan senapan angin. "Kami ke sana untuk membongkar pagar yang dibuat oleh pihak PT MIGP Industri di dalam area lahan kami atas instruksi dari perusahaan. Tapi setibanya di sana, kami langsung diserang," ujarnya.


    Dua Orang dari PT SBS Meninggal Dunia Bentrokan tersebut mengakibatkan dua orang dari pihak PT SBS meninggal dunia. Keduanya yakni Martinus Mangge (55) dan Heribertus Goda (43). Guntur mengatakan kedua korban mengalami luka tusuk pada bagian dada dan perut. Keduanya sempat dibawa ke RS Graha Hermin untuk mendapatkan pertolongan medis. 


    Namun, nyawa keduanya tidak tertolong. Selain dua korban meninggal dunia, sejumlah orang lainnya juga mengalami luka-luka. Guntur menyebut korban luka di antaranya Stenly, Rusli, Komarudin, Uda, Sebastian, dan Robert. 


    Hingga Senin malam, jenazah Martinus dan Heribertus masih menjalani proses identifikasi di Instalasi Forensik RS Bhayangkara Batam, Nongsa.


    Polisi Sebut Bentrokan Dipicu Aksi Spontan Anggoro mengatakan, bentrokan bermula ketika salah satu kelompok datang ke lokasi. Kelompok lain yang diberi kuasa untuk mengelola lahan tersebut kemudian merasa terprovokasi hingga terjadi aksi penyerangan dan serangan balasan. "Kejadiannya adalah aksi spontan.


     Ada satu kelompok datang, dan kelompok yang dikuasakan mengelola lahan tersebut merasa terprovokasi dan melakukan serangan balasan," ujarnya. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian kedua korban. 


    Berdasarkan dugaan awal, senjata yang digunakan dalam bentrokan tersebut merupakan senapan angin, bukan senjata api. "Itu dugaan awal, untuk proses visum dan otopsi masih berjalan. Nanti akan kami proses sesuai hukum yang berlaku," jelas Anggoro.


    Polisi Amankan Enam Orang Pascabentrokan, polisi telah mengamankan enam orang. Anggoro mengatakan, polisi masih mendalami keterlibatan masing-masing orang dalam peristiwa tersebut, termasuk mencari pihak yang diduga sebagai pelaku. "Beberapa orang telah diamankan dan sudah ada terduga pelaku yang sedang proses diambil keterangan.


     Ini juga akan dikembangkan keseluruhan," ujarnya. Polisi Pastikan Bukan Konflik Rempang Anggoro mengatakan, persoalan lahan yang menjadi latar belakang bentrokan tersebut telah berlangsung cukup lama. Menurutnya, terdapat salah satu pihak yang telah mendapatkan izin pengelolaan lahan dari BP Batam. 


    Namun, di sisi lain terdapat perusahaan yang mengklaim memiliki lahan tersebut. "Ada salah satu pihak yang sudah dapat PL dari BP Batam. Namun ada pihak lain yang mengklaim memiliki lahan tersebut. Masalah ini berjalan sudah cukup lama," ujarnya. Anggoro memastikan bentrokan di Setokok berbeda dengan polemik Rempang Eco City. Ia juga memastikan bentrokan tersebut tidak mengandung unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). 


    Pascabentrokan, aparat gabungan masih melakukan pengamanan di sekitar lokasi untuk memastikan situasi tetap kondusif. Anggoro mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum dipastikan kebenarannya, terutama video maupun kabar yang beredar setelah kejadian. "Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terhasut oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya," ujarnya.

    Sumber: Kompas.com


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini