Kediri, Liaperistiwa.net -
Kebakaran menghanguskan hampir seluruh bagian rumah di Kelurahan Pesantren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (2/8/2026) tengah malam. Kebakaran diduga dipicu korsleting pada penanak nasi.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut. Namun, pemilik rumah bernama Puji mengalami kerugian materiil sekitar Rp 1,2 miliar. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Kediri yang juga membawahi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Kediri, Paulus Budi Luhur, mengatakan lima armada pemadam dikerahkan untuk menangani kebakaran.
“Total ada lima kendaraan yang kami turunkan untuk mengatasi kebakaran itu,” ujar Paulus Budi Luhur pada Kompas.com, Senin (3/8/2026). Petugas membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk memadamkan kobaran api.
Kebakaran mengakibatkan rumah seluas sekitar 600 meter persegi dari total luas bangunan 800 meter persegi nyaris hangus. Tingkat kerusakan diperkirakan mencapai 95 persen.
“Kerugian materiil sekira Rp 1,2 miliar dan aset yang bisa terselamatkan sekira Rp 700 juta,” ujar Paulus. Diduga berawal dari penanak nasi Paulus mengatakan, berdasarkan pemeriksaan awal, kebakaran diduga bermula dari korsleting pada penanak nasi.
Api kemudian merambat ke barang-barang yang berada di sekitarnya. “Perkiraan penyebabnya karena konsleting penanak nasi,” lanjut Paulus. Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama saat musim kemarau yang ditandai kondisi panas dan angin.
“Tidak membakar sampah sembarangan, mengawasi tungku masak, serta mengecek kembali kondisi instalasi listriknya,” ucap mantan Kepala Dinas Sosial ini dalam imbauannya.
Sementara itu, Sani Lailina, anggota keluarga pemilik rumah, mengatakan kebakaran terjadi ketika ibunya sedang tidur seorang diri di kamar. Ibunya terbangun setelah mencium bau asap dan mengetahui kondisi listrik di rumah padam.
“Mama saat itu sudah tertidur. Bangun-bangun lampunya mati dan lihat kebakaran sudah besar,” ujar Sani Lailina pada Kompas.com. Sani mengatakan, ibunya kemudian menghubungi petugas Damkar untuk meminta pertolongan karena api semakin membesar.
Bahkan, petugas Damkar kembali datang pada Senin (3/8/2026) pagi setelah masih ditemukan kepulan asap dan bara di salah satu kamar. “Ini tadi (pagi ini) damkar juga datang lagi. Sebab ada kepulan asap dan bara yang masih muncul dari salah satu kamar,” ujar Sani.
Meski rumah mengalami kerusakan parah, keluarga bersyukur Puji berhasil menyelamatkan diri dan tidak mengalami luka. Anggota keluarga lainnya, Satria Anggara, berharap pemerintah setempat memberikan perhatian terhadap musibah yang dialami keluarganya.