masukkan script iklan disini
Labuhanbatu, Ligaperistiwa.net -
Di Sei Penggantungan, Kecamatan Panai Hilir, hukum seolah kehilangan taringnya. Nama Bagio yang dijuluki “Big Boss” narkoba, beserta istrinya, kini bergerak semakin berani bertransaksi terang-terangan di sekitar kolam dekat rumahnya, memakai dalih mengobati orang tua sakit untuk menipu warga, dan diduga merasa sepenuhnya kebal hukum.
Bagio bukan nama asing di wilayah itu. Ia dikenal sebagai pengendali utama peredaran sabu yang menjangkau hingga Negeri Lama dan sekitarnya. Yang makin membuat darah mendidih ia tidak bergerak sendirian, melainkan ditemani istri, serta didukung jaringan yang disingkat BD yang makin meluas jangkauannya.
Mereka tak lagi bersembunyi di tempat gelap. Lokasi transaksi justru terbuka di pinggir kolam dekat kediaman mereka. Bahkan untuk memancing simpati dan menutupi kejahatannya, Bagio kerap berpura-pura menjual barang haram dengan alasan “butuh biaya berobat orang tua yang sakit”.
“Ini cara paling licik! Ia memakai belas kasihan warga untuk menutupi dosa besarnya. Semua orang tahu apa yang dijualnya, tapi ia berani berlagak seperti orang yang malang. Ini penghinaan terhadap akal sehat!” ujar WR, warga setempat yang enggan disebutkan nama aslinya demi keselamatan diri.
Selama bertahun-tahun, aktivitas ini berjalan lancar. Laporan sudah disampaikan, keluhan sudah disampaikan tapi hasilnya selalu sama tidak ada tangkapan, tidak ada penggerebekan, tidak ada tindakan berarti.
Rasa takut dan kecewa kini meliputi warga Sei Penggantungan. Mereka melihat pemuda-pemuda di lingkungannya perlahan berubah ada yang berhenti sekolah, ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang berperilaku kasar semua dampak dari peredaran sabu yang dikendalikan Bagio.
“Kami hidup dalam ketakutan. Kami lihat sendiri siapa saja yang datang ke rumahnya, kapan mereka bertransaksi. Tapi kalau aparat saja bilang tidak mampu, siapa lagi yang bisa kami harapkan? Apakah hukum di sini hanya untuk orang kecil, sedangkan bandar besar punya hak istimewa?” geram WR.
Mereka sudah tidak percaya lagi pada kemampuan Polsek Panai Hilir. Sebagai jalan terakhir, warga kini mendesak Satres Narkoba Polres Labuhanbatu dan Polda Sumatera Utara turun tangan langsung.
“Jangan biarkan alasan kekurangan anggota dijadikan tameng pembiaran. Turunlah, bongkar sarang Bagio dan istrinya di sekitar kolam itu! Tangkap seluruh jaringan BD mereka! Usut juga siapa saja yang selama ini menjadi tameng pelindungnya, agar tidak ada lagi yang merasa lebih berkuasa daripada undang-undang negara!” tuntut warga.
Kasus Bagio ini mengungkapkan kenyataan pahit ketika seorang bandar besar bisa beroperasi bertahun-tahun, bertransaksi di tempat terbuka, dan didukung keluarga sendiri sedangkan aparat hanya bisa mengeluh kekurangan tenaga maka ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Apakah Kapolsek Panai Hilir benar-benar tidak mampu menangani masalah ini, atau memang ada kepentingan yang membuat ia tutup mata dan telinga? Hukum yang hanya bisa bekerja saat mudah, dan menyerah saat menghadapi penjahat berani, bukanlah hukum yang adil.
Bagio dan istri, beserta jaringan BD-nya, harus segera ditangkap. Bukan karena jumlah anggota polisi banyak, tapi karena mereka telah merusak masa depan generasi muda dan menantang kedaulatan hukum di Labuhanbatu.
jika ada kemauan, pasti ada jalan. Jika Bagio masih bebas, berarti ada yang dibiarkan, ada yang dilindungi, dan ada yang takut menyentuhnya. Selama itu terjadi, keamanan di Panai Hilir hanyalah omong kosong semata.
Sementara itu, dari pihak kepolisian panai hilir saat di konfirmasi IPTU Bambang "Terimakasih infonya dan kita lakukan penyelidikan bang " Ujarnya
Sumber: Fakta62.info