MBAY, Ligaperistiwa.net -
Samsia Cora (48), warga Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal setelah mengalami sesak napas saat berlari menuju tenda pengungsian. Samsia diduga mengalami sesak napas setelah panik akibat beredarnya informasi mengenai potensi tsunami pada Selasa (25/8/2026).
Saat itu, warga yang masih diliputi ketakutan kembali berlari menuju tenda pengungsian di Dedewuwu. Andi, adik ipar Samsia, mengatakan sebelum kejadian tersebut korban masih beraktivitas seperti biasa.
"Demam biasa saja. Masih beraktivitas biasa sore kemarin," ujar Andi, Rabu (26/8/2026) malam. Menurut Andi, suasana berubah mencekam setelah beredar informasi mengenai tsunami. Warga kemudian bergegas menuju lokasi pengungsian.
Samsia bersama anaknya, Fadli (10), turut berlari menuju tenda pengungsian. Namun, mereka belum jauh berjalan ketika Samsia terjatuh karena mengalami sesak napas. "Karena isu yang membuat masyarakat takut sehingga berlarian kembali ke tenda pengungsian di Dedewuwu. Belum jauh beranjak, tidak mampu lagi berlari dan terjatuh.
Napasnya sesak," tuturnya. Samsia kemudian dilarikan ke RSUD untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong. Jenazah Samsia kemudian dimakamkan di pekuburan umum Nangadhero. "Sudah kami kubur barusan di pekuburan umum Nangadhero," ujar Andi.
Andi mengatakan, kepergian Samsia meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama bagi Fadli yang menyaksikan langsung ibunya terjatuh. Menurut dia, Fadli kini mengalami trauma dan takut tidur di rumah. "Dia takut tidur di rumah. Dia traumsas.
Sebab ibunya jatuh itu, saat bersama dia," tutur Andi. Andi berharap ada perhatian dari berbagai pihak terhadap kondisi Fadli, termasuk bantuan untuk melanjutkan pendidikannya. "Anaknya sudah tidak sekolah karena ketiadaan biaya. Ayahnya nelayan," katanya.
Sumber: Kompas.com