Orbitnews.info -
DPR mengkritisi pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Sudah 4 calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang mengikuti latihan dasar kemiliteran tersebut meninggal.
4 calon manajer Koperasi Merah Putih tersebut yakni
- Anisa Muyassaroh
- Yonanda Muhammad Taufiq
- Novia Rahmadhani Sihotang asal Padangsidimpuan, Sumatra Utara (Sumut).
- Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.
Muhammad Rifki merupakan korban ke-empat yang dinyatakan meninggal pada Jumat 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB.
Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, meminta kementerian dan lembaga terkait meninjau kembali standar materi Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil)
Kini, Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Yulius Setiarto, mendesak Kementerian Pertahanan (Kemhan) menghentikan sementara pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) tersebut.
4 Peserta Meninggal Kurun 2 Pekan
Desakan itu disampaikan setelah empat peserta program tersebut meninggal dunia dalam kurun waktu kurang dari dua pekan.
Menurut Yulius, rentetan kematian peserta merupakan tragedi kemanusiaan yang harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Dia menilai penghentian sementara diperlukan agar evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan pelatihan dapat dilakukan demi menjamin keselamatan peserta.
"Saat ini diperlukan penghentian sementara seluruh kegiatan Latsarmil yang tengah berjalan, disertai evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraannya demi menjamin keselamatan peserta dan akuntabilitas negara," kata Yulius kepada Tribunnews, Sabtu (27/6/2026).
Program SPPI yang diselenggarakan Kemhan bertujuan mempersiapkan calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Pelatihan dimulai pada 17 Juni 2026 dan dijadwalkan berlangsung selama 45 hari hingga 31 Juli 2026, dengan melibatkan 35.476 peserta di berbagai satuan pendidikan TNI di seluruh Indonesia.
Yulius juga menekankan bahwa Kemhan memikul tanggung jawab penuh atas keselamatan seluruh peserta selama mengikuti program resmi pemerintah.
Menurutnya, tanggung jawab tersebut tidak gugur hanya karena peserta telah lolos seleksi kesehatan atau menandatangani persetujuan mengikuti pelatihan.
"Ketika negara memobilisasi warga sipil untuk mengikuti pelatihan semi-militer, negara secara inheren mengambil alih tanggung jawab penuh atas kesejahteraan dan keselamatan jiwa mereka selama masa pelatihan," ucapnya.
Ia mengapresiasi komitmen Kemhan dalam memberikan pendampingan kepada keluarga korban.
Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup tanpa adanya investigasi independen untuk mengungkap kemungkinan kelalaian prosedural.
Sebagai solusi, Yulius meminta pemerintah memberlakukan moratorium sementara terhadap seluruh kegiatan Latsarmil SPPI sembari melakukan audit menyeluruh terhadap pelaksanaan program.
Menurutnya, evaluasi harus mencakup validitas pemeriksaan kesehatan pra-latihan, kesiapan fasilitas dan tenaga medis di setiap lokasi pendidikan, proporsionalitas beban latihan fisik bagi peserta sipil, serta efektivitas sistem tanggap darurat.
Tanggapan Istana
Istana melalui Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menanggapi.
Menurut Dudung, peristiwa tersebut masih dalam proses pendalaman dan evaluasi.
“Oh iya, memang saya mendengar berita itu ada di tiga tempat ya, ada pelatihan militer. Ya memang sedang dievaluasi,” kata Dudung di Gedung Bina Graha, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, (26/6/2026).
Berdasarkan informasi dari Kementerian Sekretariat Negara, hingga kini kata Dudung belum ditemukan adanya kelalaian dalam proses Latsarmil tersebut.
Menurut Dudung pada dasarnya pelatihan yang dilakukan terhadap para calon manajer KDKMP dan KNMP tidak terlalu berat. Kemungkjnan ada faktor lain yang menyebabkan para calon manajer tersebut meninggal seperti diantaranya sakit.
“Informasi dari Sesneg belum ada tingkat kelalaiannya ya, karena memang ya namanya meninggal mungkin kan tidak serta-merta latihan militer. Setahu saya latihan militer untuk tingkatan seperti SPPI dan sebagainya tidak terlalu keraslah ya. Tapi mungkin karena mungkin dia sakit dan sebagainya. Tapi ini sedang dievaluasi dan ada investigasi,” katanya.
Belasungkawa
Pemerintah kata Dudung menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya tiga calon manajer KDKMP dan KNMP tersebut.
Ia memastikan pelatihan yang diikuti para calon manajer ke depan sesuai prosedur dengan mengutamakan faktor keselamatan.
Sudah 4 orang peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon manajer Koperasi Merah Putih yang meninggal saat latihan.
Sebelum mengikuti program, kata Rico, almarhum Rifki telah melalui tahapan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan.
Dia menerangkan Kementerian Pertahanan bersama penyelenggara pendidikan telah memberikan pendampingan kepada keluarga almarhum, termasuk pengantaran jenazah ke daerah asal serta membantu pemenuhan hak-hak peserta sesuai ketentuan yang berlaku.
Sejumlah langkah yang dilakukan, kata Rico, meliputi penguatan proses seleksi kesehatan, deteksi dini kondisi medis peserta, peningkatan pengawasan oleh tenaga kesehatan selama pendidikan, penelusuran (tracing) terhadap peserta yang memiliki keluhan serupa, serta penyempurnaan prosedur penanganan kesehatan di seluruh satuan pendidikan.
Dia menjelaskan program SPPI merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki jiwa kepemimpinan untuk mendukung pembangunan nasional melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
"Seluruh peserta mengikuti program ini secara sukarela melalui mekanisme seleksi yang telah ditetapkan," pungkasnya.
Sebelumnya, tiga calon manajer KDKMP/KNMP yang meninggal dunia adalah Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Novia Rahmadhani Sihotang.
Novia Sihotang Warga Sumut Sempat Komunikasi
Novia Rahmadhani Sihotang merupakan warga Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Wek V, Padangsidimpuan, Sumatera Utara yang mengikuti Latsarmil di Jakarta.
Ia berangkat menuju Jakarta pada 13 Juni 2026 untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di lingkungan Pusat Bahasa Kodiklat TNI Angkatan Udara.
Menurut keterangan keluarga, selama mengikuti pelatihan di Jakarta, Novia masih aktif berkomunikasi dengan orangtua dan saudara-saudaranya di Padangsidimpuan.
Bahkan, sekitar dua hari sebelum kabar duka diterima, ia masih sempat berbincang melalui sambungan telepon dengan keluarganya.
“Masih sempat menelepon keluarga. Saat itu tidak ada keluhan yang disampaikan.
Karena itu kami benar-benar tidak menyangka akan menerima kabar seperti ini,” tutur ayah Novia, Syawaluddin dengan mata berkaca-kaca.
Keluarga Sambut Jenazah di Padangsidempuan
Sementara itu, jenazah Novia tiba di Kota Padangsidimpuan pada Rabu (24/6/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
Kedatangan jenazah disambut haru oleh keluarga besar, saudara, dan kerabat yang telah menunggu sejak siang hari.
Jasad Novia Dimakamkan
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dan dihadiri keluarga besar, warga sekitar, serta rekan-rekan yang mengenal almarhumah.
Kepergian Novia meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Almarhumah dikenal sebagai sosok yang ramah, baik, serta memiliki semangat tinggi untuk mengabdi kepada masyarakat melalui berbagai program pembangunan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga masih menunggu penjelasan resmi terkait penyebab meninggalnya Novia selama mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kemiliteran di Jakarta.